Kamis, 14 Oktober 2010

Menunggu waktu

Sudah lama sekali...
Hingga penat jarum jam mengitari angka
Bukan karena kita lengah...
Mungkin terlalu lelah mengeja ayat - ayat cinta

Hingga waktu bicara sendiri...
Sampai peradaban yang kita tidak mengerti...

Dan kita masih saja memilih...

Aku, Kamu, Picikmu, Bodohku...

Kau dengan segala keindahan
Menawarkan pesona raga dalam diam
Dan sejenak aku-pun hilang ingatan
Bahwasanya padang pasir masih gersang

Namun cahaya meredup,
Tatkala mimpi ingin ku kecup
Kesejukan membakar,
Tatkala jiwa telah ku pasrahkan

Bukan aku,
Tapi kamu...
Bukan picikmu,
Tapi bodohku...

Jumat, 08 Oktober 2010

Mengeja langkah

Terlalu jauh berkelana
Buat kau lupa mengeja jejak - jejak langkah
Bukan buta, bukan hilang...
Tapi lukisan suram terhapus bayang
Bukan hitam, bukan malam...
Tapi nyanyian ilalang kala petang

Kau ingat senja di perbatasan?
Nafas bocah kecil-pun kau rindukan...
Semua senyuman!
Bahkan cengkerama angin dan debu-pun tak kau abaikan...

Tapi semua tinggal catatan yang tidak dibukukan...
Tinggal dongeng yang tak dibacakan
Bukan lengah...
karena pandangmu terlalu pongah...

Minggu, 21 Juni 2009

cahaya gelap

masihkah kamu berharap
pada luka yang tersayat...

sembuh itu waktu,
bukan obat...


ragu?

tanya-lah pada ilalang, pada petang...

bukan pagi,
karena embun itu penipu

sejuk separoh waktu

jika kamu masih berharap
datanglah pada gelap

bukan sepi, bukan sunyi...
tapi alunan mimpi esok hari...

Selasa, 05 Mei 2009

catatan sebelum senja

Pernahkah kamu merasa bebas,
Berjalan di lorong padat...
Atau kamu pernah merasa lepas,
Di setiap persendian yang penat...

Di ruas jalan yang lapang,
Kadang kita tertekan...

Kenapa?
Apa karena ada yang terlupakan?
Atau ada sesuatu yang hilang?
Yang pasti, jiwa makin kerontang...

Hmm...
Ingin segera ku temui mentari...
Di ufuk timur pagi hari...
Atau senja di merah jingga...
Menghampiri malam di barat cakrawala...


Senin, 19 Januari 2009

Luka Palestina

darah masih merah
melekat pekat di debu Gaza
rintihan-pun masih terdengar
pengganti adzan yang tak lagi berkumandang

hmmm...
entah dimana batas luka ini

amarah mungkin sudah meluap
beribu do'a-pun mukin telah terucap
tapi, apa cukup dengan begini ?
mematung diam di depan TV ?

rajam saja seluruh raga
yang tak mengerti makna air mata
yang tak bisa mencium amis darah
yang di tiup kencang angin Palestina

atau, bertanyalah pada jiwa yang lelah
sebelum luka itu bernanah...

Jumat, 09 Januari 2009

Sesal

Ada titik sesal
Menguak dari jiwa yang dulu gamang
Tapi semua sudah tertelan
Langkah - langkah pelan terlanjur terpijakan


Duka luka sesak tertahan
Asa jiwa tlah terbenam
Mimpi kering tertebar
Pucat, keringat, meluap...


Mimpi indah-pun tlah rusak
Dimakan nafsu yang tamak...


Dan waktu takkan berpulang...


Percikan sesal bukan lagi pelajaran
Tapi mimpi buruk berkepanjangan..